Feature

MACET TERUS
Oleh : Salsabila Rahma Siti M

Udara sejuk pagi hari di kota Bandung, terik matahari yang baik untuk badan kami selaku mahasiswa. Perjalanan kami dimulai pagi sekali agar udara dan semangat mencari ilmu masih belum bersatu dengan rasa kantuk. Kami memulai perjalanan kami tepat jam tujuh pagi dan berkumpul di depan taman rektorat kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ujian Akhir Semester mata kuliah pengantar ilmu jurnalistik ini, dirasa berbeda karena selain harus belajar mendapat ilmu dari pikiran rakyat ini, juga sambil refreshing.

Kami berangkat rombongan namun ada yang menggunakan sepeda motor dan ada yang menggunakan kendaraan umum (Bus DAMRI). Kebetulan aku berangkat menggunakan sepeda motor dengan rekan sekelasku Risman Nurzaman, kami semua berangkat konvoi sekitar 8 motor yang masing – masing motor terdapat dua orang. Kami pun berangkat bersama melewati jalan ke arah cicadas.

Saat di perjalanan aku sangat menikmati udaranya karena sangat segar. Tapi, setelah masuk kawasan Ujung Berung udara berubah menjadi tidak segar karena banyak asap kendaraan dan keadaan jalan yang macet, menghambat perjalanan kamu menuju Asia Afrika. Kemacetan yang terjadi di kota Bandung sudah menjadi makanan sehari – hari yang dirasakan oleh masyarakat sekitar. Dijalan aku sempat tertinggal rombongan lain saat macet, karena masing – masing motor mencari jalan agar tetap melaju. Rasa kesal, bosan, cemas  aku rasakan karena kemacetan, maklum saja kami berangkat diwaktu – waktu orang  - orang pergi bekerja.
Kesal karena macet yang sangat panjang di Cicaheum, bosan karena motor tidak bisa bergerak, menunggu kendaraan di depannya melaju sedikit demi sedikit.dan cemas karena aku takut telat tiba di Pikiran Rakyat. Selama di perjalanan yang aku temukan hanya kemacetandan kemacetan, dan kemacetan aku rasakan lagi di jalan Jakarta, karena ada pembangunan jalan layang yang nantinya berguna untuk mengurangi kemacetan di kota Bandungterutama wilayah jalan Jakarta.

Untuk menghilangkan semua rasa itu aku mengajak Risman untuk berbincang – bincang, banyak hal yang kami obrolkan salah satunya masalah kemacetan dan juga tugas akhir yang harus diselesaikan dalam waktu singkat, juga sesekali melihat keadaan sekitar, karena banyak sekali hal – hal yang menarik di lingkungan sekitar kita. Selain itu juga aku dengerin lagu – lagu, karena musik dapat membuat emosional yang buruk berubah menjadi baik. Dan itu yang saya rasakan saat di perjalanan kemaren (15/12).

Menurut sebuah artikel yang pernah aku baca, kemacetan dapat membuat orang menjadi stres dan adapun ciri – ciri orang sedang stress yaitu : gejala fisik, seperti merasa lelah, otot kaku dan tegang; gejala mental, seperti penurunan konsentrasi dan daya ingat; dan gejala emosi, seperti cemas, frustasi, mudah marah. Emosional yang terganggu membuat daya kerja otak menurun. Nah, semua itu saya rasakan saat melakukan perjalanan ke Pikiran Rakyat.

Kemacetan pun berakhir saat aku beradadi daerah Kosambi, disana aku sudah mulai merasa relaks kembali karena asap kendaraan umun minim untuk aku hisap, juga karena terbebas dari yang namanya macet. Tapi karena sudah terlalu lama menikmati kemacetan. Udara pun sudah tidak segar yang ada hawa panas yang mengerogoti kulit aku.  Tapi semua tidak aku rasa karena keindahan kota bandung dengan gedung -  gedung Arsitekturnya yang menarik dan enak di pandang membuat mata ini sangat dimanjakan. Sungguh indah ciptaan Tuhan melalui kemampuan manusia yang cerdas.

Akhirnya, sampai sudah aku di jalan Asia Afrika tempat yang akan aku dan temen –teman ku kunjungi untuk mengetahui tentang proses pembuatan surat kabar. Senangnya, tidak lagi terjebak di kerumunan kendaraan yang membuat kesal. Sambil menunggu aku dan teman – teman yang lain mengabadikan moment kami disana dengan groufie dan selfie karena banyak tempat – tempat yang bagus untuk dijadikan tempat berfoto. Rasa lelah yang tergantikan dengan rasa bahagia.

Banyak hal yang aku dapat dari perjalanan itu yang pertama melatih kesabaran, dimana kesabaran aku ini benar – benar diuji bahkan sangat di uji, kedua aku belajar filosofi hidup dimana aku tidak boleh mengeluh dengan keadaan yang ada, karena hidup adalah soal perjuangan. Dan yang ketiga, belajar bersyukur dimana aku harus bersyukur dengan segala yang sudah Tuhan kasih.

Intinya kita harus mau berproses sebelum mendapatkan hasil. Kedatangan kami tidak jauh berbeda dengan yang menggunakan bus DAMRI yang pergi lebih awal. Bahagianya bisa berkumpul dengan teman – teman. Bisa belajar tentang banyak hal dan yang terpenting bisa refreshing. Karena Ujian Akhir Semester membuat kami stress, selain dari kemacetan itu tadi. Perjalanan yang menghabiskan waktu satu jam setengah itu, memberikan aku banyak pengalaman berharga, kini kota Bandung tidak lagi seperti dulu saat aku masih kecil. Yang sejuk, segar, tenang. Mungkin karena sudah terlalu banyak penduduk dari luar daerah yang dating ke Bandung untuk merasakan keindahan dan kenikmatan kota.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku bersama Mimpi-Mimpiku

Naskah Ceramah